Tidak semua perjalanan karier dimulai dari ruang rapat perusahaan besar. Sebagian dimulai dari ruang kuliah, rasa ingin tahu yang besar, dan keberanian untuk terus belajar.
Itulah gambaran perjalanan Ir. Suharta, ST., MH., IPM., alumni Teknik Kimia Universitas Diponegoro angkatan 1991 yang kini dikenal sebagai technopreneur dan praktisi profesional di bidang industrial water treatment dengan pengalaman lebih dari 35 tahun.
Lahir di Ngawi, Jawa Timur, Suharta muda memilih Teknik Kimia Universitas Diponegoro sebagai tempat untuk membangun fondasi keilmuan yang kelak membentuk perjalanan hidupnya. Di bangku kuliah, ia tidak hanya belajar mengenai perpindahan panas, operasi teknik kimia, maupun desain proses, tetapi juga belajar cara berpikir sistematis dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks.
“Teknik Kimia mengajarkan bagaimana melihat suatu sistem secara menyeluruh. Cara berpikir inilah yang terus saya gunakan hingga sekarang dalam dunia industri maupun bisnis,” ungkapnya.
Setelah menyelesaikan studi pada tahun 1996, Suharta memulai karier profesionalnya di PT Unggul Indah Corporation, salah satu perusahaan multinasional yang memproduksi Linear Alkyl Benzene (LAB), bahan baku utama industri deterjen.
Sebagai Production Engineer, ia terjun langsung ke lingkungan industri yang menuntut ketelitian tinggi, efisiensi proses, serta kemampuan menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat. Pengalaman tersebut menjadi sekolah pertama yang memperkenalkannya pada realitas dunia manufaktur berskala besar.
Namun perjalanan kariernya tidak berhenti di area produksi.
Pada tahun 1997, ia bergabung dengan PT Kurita Indonesia, perusahaan Jepang yang dikenal secara global dalam bidang teknologi pengolahan air. Di sinilah keahlian yang kemudian menjadi identitas profesionalnya mulai terbentuk.
Selama bertahun-tahun, Suharta menangani berbagai proyek water treatment untuk industri strategis nasional. Ia terlibat dalam pengelolaan sistem cooling tower dan boiler di fasilitas-fasilitas penting seperti Pertamina UP VI Balongan, Pertamina UP III Plaju, dan PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI).
Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mendalam bahwa air bukan sekadar utilitas industri. Air adalah komponen vital yang menentukan efisiensi, keandalan, dan keberlangsungan operasi suatu pabrik.
Ketika sistem pengolahan air tidak berjalan optimal, konsekuensinya bisa sangat besar: korosi peralatan, penurunan efisiensi energi, peningkatan biaya operasional, hingga risiko penghentian produksi.
Berbekal pengalaman teknis yang kuat, Suharta kemudian memperluas cakrawala profesionalnya dengan bergabung ke PT Gulf Oil Lubricant Indonesia sebagai Assistant Sales Manager untuk area industri.
Di sinilah ia mulai memahami bahwa keberhasilan suatu solusi tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknologinya, tetapi juga oleh kemampuan memahami kebutuhan pelanggan, membangun kepercayaan, dan menciptakan nilai tambah bagi industri.
Perpaduan antara kemampuan engineering dan business development inilah yang kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya.
Pada tahun 2006, Suharta mendirikan PT Toya Mas Artha Prima dan mengambil langkah besar menjadi seorang entrepreneur.
Keputusan tersebut bukan tanpa tantangan. Memulai perusahaan sendiri berarti harus membangun kepercayaan pasar dari nol, mengembangkan tim, serta bersaing dengan berbagai perusahaan nasional maupun multinasional yang telah lebih dahulu hadir.
Namun dengan pengalaman teknis yang mendalam dan jaringan profesional yang luas, perusahaan yang dirintisnya terus berkembang.
Saat ini PT Toya Mas Artha Prima menyediakan solusi pengolahan air untuk cooling system, boiler, water treatment plant (WTP), wastewater treatment plant (WWTP), reverse osmosis, chilled water system, hingga berbagai kebutuhan industri lainnya. Perusahaan juga memiliki visi untuk menjadi perusahaan water treatment terpercaya di Indonesia yang berkontribusi terhadap lingkungan dan sumber daya air yang berkelanjutan.
Di bawah kepemimpinannya, perusahaan telah dipercaya oleh berbagai sektor industri nasional, mulai dari pembangkit listrik, petrokimia, semen, minyak dan gas, otomotif, farmasi, FMCG, tekstil, agroindustri, hingga industri makanan dan minuman.
Daftar pengalaman proyek yang panjang tersebut menunjukkan satu hal penting: solusi engineering yang baik tidak mengenal batas sektor industri.
Bagi Suharta, seorang engineer tidak boleh berhenti belajar. Perkembangan teknologi, tuntutan efisiensi energi, isu keberlanjutan, dan pengelolaan sumber daya air terus menghadirkan tantangan baru yang harus dijawab dengan inovasi.
Karena itu, selain menjadi entrepreneur, beliau juga terus mengembangkan kompetensinya sebagai Insinyur Profesional Madya (IPM), menunjukkan komitmen terhadap profesionalisme dan pengembangan keilmuan yang berkelanjutan.
Perjalanan Ir. Suharta menjadi bukti bahwa lulusan Teknik Kimia memiliki peluang karier yang sangat luas. Tidak hanya menjadi engineer di pabrik, tetapi juga dapat berkembang menjadi konsultan, pemimpin industri, hingga entrepreneur yang menciptakan solusi bagi berbagai sektor strategis nasional.
Bagi mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro, kisah beliau memberikan pelajaran berharga bahwa keberhasilan tidak dibangun dalam semalam. Ia lahir dari proses panjang, keberanian mengambil peluang, konsistensi belajar, dan kemauan untuk terus memberikan solusi bagi masyarakat.
Dari seorang mahasiswa Teknik Kimia UNDIP hingga menjadi technopreneur yang dipercaya berbagai industri nasional, perjalanan Ir. Suharta menunjukkan bahwa ilmu teknik dapat menjadi fondasi kuat untuk menciptakan dampak yang nyata bagi bangsa.