[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”4.16″ global_colors_info=”{}”][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”4.16″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” custom_padding=”||0px|||” global_colors_info=”{}”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”4.16″ custom_padding=”|||” global_colors_info=”{}” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.16″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” custom_padding=”||0px|||” global_colors_info=”{}”]
Berdasarkan data World Rice Production, Indonesia memproduksi beras sebanyak 34.600.000 ton per tahun 2022. Beras tersebut merupakan 60% jumlah padi yang digiling, sisanya adalah produk samping berupa beras menir, sekam, dan lapisan padi lainnya. Jumlah beras menir berkisar 15-20% atau sebesar 6.920.000 ton. Beras ini memiliki harga jual yang rendah, jarang dikonsumsi, dan biasanya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Solusi untuk meningkatkan kualitas dan pemanfaatan beras menir adalah dengan fortifikasi, yang mana merupakan metode meningkatkan gizi pada bahan pangan. Salah satu mineral yang dapat difortifikasikan adalah kalsium. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kasus defisiensi kalsium sehingga menjadi permasalahan gizi pada masyarakat. Cormick, dkk pada tahun 2020 menyatakan bahwa masyarakat Asia rata-rata hanya mengonsumsi kalsium kurang dari 500 mg Ca/hari sehingga mengakibatkan penyakit defisiensi mineral.
Tulang sotong merupakan salah satu cangkang moluska dengan kandungan 85% kalsium karbonat dalam bentuk mineral aragonit. Menurut Suwannasingha, dkk pada tahun 2022, total kalsium yang terkandung dalam 1000 miligram tulang sotong adalah 353,15 miligram. Angka tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan cangkang kepiting. Pelabuhan Perikanan Muara Angke Jakarta Indonesia menghasilkan limbah tulang sotong sebanyak 1,29-1,52 ton setiap tahunnya dan oleh masyarakat Indonesia hanya dijadikan sebagai sumber mineral dalam pakan burung dan penyu.
Dengan peninjauan permasalahan yang ada, kami Tyas Nur Ramadhani Hari Warsono, Fiqi Ainul Izza Maulana, Muhammad Sheehan Zhafir, Zahra Firly Mareta, dan Alfian Anas Widyatmaka dengan dosen pembimbing Prof. Dr.nat.techn. Siswo Sumardiono, S.T., M.T. melakukan sebuah inovasi penelitian untuk merekonstruksi beras menir terfortifikasi kalsium tulang sotong guna meningkatkan gizi masyarakat dan mewujudkan tujuan kedua Sustainable Development Goals yaitu zero hunger (mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi, serta memajukan pertanian berkelanjutan). Proses rekonstruksi beras menir terfortifikasi kalsium tulang sotong ini akan menggunakan teknologi ekstrusi panas karena merupakan teknologi dengan biaya yang rendah dan produktivitas yang tinggi jika dibandingkan metode lainnya.
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row _builder_version=”4.18.0″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”4.18.0″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}”][et_pb_gallery gallery_ids=”6148,6147,6146″ _builder_version=”4.18.0″ _module_preset=”default” custom_margin=”-64px|||||” custom_padding=”0px|||||” global_colors_info=”{}”][/et_pb_gallery][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]