Semarang-Biji selasih (Ocimum basilicum L.) yang selama ini sering menjadi bahan pelengkap dalam minuman ataupun dessert, ternyata memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi plastik berbahan dasar alam yang ramah lingkungan (bioplastik). Biji selasih yang membengkak dapat diekstrak gum-nya yang berwarna putih bening untuk selanjutnya diolah menjadi bioplastik. Gum biji selasih memiliki kandungan polisakarida yang termasuk golongan karbohidrat. Hal ini membuat biji selasih menjadi kompatibel untuk membuat bioplastik.
”Kami berharap dapat meningkatkan nilai tambah biji selasih melalui diversifikasi produk ini. Dalam keberjalannya, kami juga telah melakukan beberapa trial untuk meningkatkan kualitas bioplastik yang dihasilkan seperti penambahan sorbitol supaya lebih elastis dan ekstrak daun kersen sebagai antibakteri” Ujar Zhafire (30/09/2023).

Gambar 1. Produk bioplastik dari biji selasih
Produk berupa bioplastik dinilai sebagai inovasi yang ramah lingkungan mengingat jumlah sampah plastik dunia pada tahun 2020 telah mencapai 7,8 miliar ton (Ritchie dan Roser, 2020). Selain itu, untuk produk kemasan plastik mencapai angka akumulasi sebesar 65% dari konsumsi plastik nasional (Greenpeace, 2019). Dengan kehadiran bioplastik dari biji selasih, setidaknya dapat mengalirkan udara segar terhadap permasalahan sampah plastik karena sifat bioplastik yang dihasilkan dapat terurai di lingkungan.

Gambar 2. Proses pembuatan bioplastik (tahap pengeringan)
Penelitian yang diketuai oleh M. S. Zhafire, Tian Shilfa , Arneta Nuzulia, Dwi Maulana, dan Jason Harman Kartawidjaja dari Program Studi Teknik Kimia di Fakultas Teknik UNDIP saat ini sedang dalam tahap pembuatan produk dan analisis uji yang difasilitasi oleh Kemendikbud Ristek melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta dengan pengusulan judul berupa ”Fortifikasi Daun Kersen sebagai Antibakteri dan Antioksidan dalam Pembuatan Edible Film Berbasis Biji Selasih Termodifikasi Sorbitol Melalui Metode Crosslink”. Inovasi ini harapannya dapat dikembangkan lebih lanjut supaya mencapai standar BPOM ataupun standar international seperti Japanese Industrial Standar supaya produk ini tetap aman jika dikonsumsi.