Lingkungan Belajar Yang Kondusif

LINGKUNGAN BELAJAR YANG KONDISIF1)

Slamet Priyanto2)

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu (Fil.4:8-9)

1. PENDAHULUAN

LINGKUNGAN, (dalam ilmu lingkungan) adalah istilah yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam yang ada di Bumi atau bagian dari Bumi, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan. (id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan_hidup). Lingkungan belajar, adalah lingkungan yang diinginkan / diharapkan agar hasil belajar yang diraih seseorang maksimal.

KONDUSIF berasal dari kata bahasa Inggris conducive yang berarti ”bersifat menyumbang, membantu ke arah keadaan tertentu” (Alfons Taryadi) yakni ’memiliki peluang seperti yang diinginkan, mempunyai peluang yang mendukung keberhasilan (usaha, pekerjaan, tindakan)’. Keterangan seperti itu bisa membuat orang menyimpulkan bahwa kondusif hanya semata-mata bermakna positif seperti tampak dari arti kondusif menurut Eko Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (2006), yakni ’kontributif, membantu, mendukung, sehat’. Menurut Echols dan Hassan Shadily (1995), dalam Kamus Inggris-Indonesia, conducive adalah kata sifat yang berarti ’mendatangkan, menghasilkan, mengakibatkan’. Exercise is conducive to good health, ’Latihan mendatangkan kesehatan yang baik’

Bulan Mei, banyak peristiwa nasional dicatat oleh sejarah Indonesia. Salah satunya, Hari Pendidikan Nasional 2 Mei. Dalam memperingati jasa pahlawan pendidikan seperti misalnya Ki Hajar Dewantoro (Raden Mas Suwardi Suryaningrat) dengan konsep kepemimpinan nasionalnya dalam mendidik bangsanya. Munculnya tujuan nasional Republik Indonesia seperti yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan bangsa, tentu saja tak lepas dari perjuangan beliau.

Ingat cita-cita Ki Hajar Dewantoro yaitu mendidik bangsanya, tentunya tak lepas dari generasi muda yang perlu dipersiapkan di masa kini (student today), untuk dituai sebagai pemimpin yang tangguh di hari esok (leader tomorrow). Perlu juga mengingat Pujangga Cina, Confucius (Cong Fu Cu) yang kata-kata mutiaranya amat cocok untuk pencerdasan bangsa: ”Jika berencana untuk 1 tahun, tanamlah padi. Jika berencana untuk 10 tahun, tanamlah pohon. Jika berencana untuk 100 tahun, didiklah generasi muda”.

Bangsa Indonesia yang tersebar di lebih dari 13.000 buah pulau itu memiliki keunikan, satu di antaranya adalah unik di dalam ke-bineka-annya. Bineka (beragam) dalam: suku, bahasa, ras, agama dan aliran kepercayaannya. Karenanya, Penyelenggaraan Orientasi KTSP Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) Sekolah Menengah Atas Se-Jawa Tengah yang dilaksanakan tanggal 4-7 Mei 2010 di Hotel Le Beringin Jl. Jenderal Sudirman 160 Salatiga amat penting dan perlu disambut dengan apresiasi yang setinggi-tingginya. Program tersebut diselenggarakan oleh Bimas Kristen Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Masalahnya, lingkungan belajar yang bagaimana agar sumbangannya / dukungannya agar saatnya generasi muda yang ditanam memberikan daya guna dan hasil guna sebagai pemimpin bangsa yang dapat dibanggakan oleh generasi pendahulu yang menanamnya?

2. TALENTA

Priyanto, S., (2010), dalam “Teori Belajar Aktif” meuliskan bahwa anak, sejak dirajut Tuhan di dalam rahim ibunya, sudah diperlengkapi dengan talenta yang berbeda satu dengan lainnya, yang karenanya suatu saat dia pasti dapat menolong dirinya dengan talentanya itu (Yesaya44:2a: Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau”).

Dengan dasar itulah diperlukan pemahaman guru dan atau orang tua atas setiap pribadi yang unik pada anak / anak didik. Tak ada seorangpun anak yang lahir dan dibesarkan di bumi ini gagal karena Tuhan tidak pernah gagal. Bagaimana memberikan lingkungan belajar agar talenta (potensi) pada anak / anak didik optimal hingga hasil yang dicapai maksimal? Apa pula yang dimaksud dengan lingkungan belajar yang kondusif itu?

Setiap anak, oleh kekayaan kreatifitas Tuhan Sang Pencipta, pasti berbeda satu dengan lainnya, walau kembar sekalipun! Tetapi kita, para orang tua dan para guru tidak boleh membeda-bedakannya. Keperbedaan adalah kekayaan, kekuatan. Dalam sistem pengajaran yang berlandaskan kompetensi, tidak ada istilah anak yang gagal atau bodoh, karena menjadi anak apapun keadaannya di atas bumi ini adalah pemenang. Kegagalan anak amat terletak pada kekurang mampuan para guru dan atau orang tua memberdayakan talenta (potensi) yang ada di dalam diri anak. Guru dan orang tua harus berfungsi sebagai suami-istri, ayah-ibu bagi anak-anak.

Sebelum menumbuh-kembangkan potensi anak (harus proaktif), amatlah perlu mengenali tahap perkembangan dan keunikan (khususnya kognitif dan moralitas)nya, berikut ini tahap-tahap perkembangannya (http://id.wikipedia.org/wiki/ Pendidikan_anak_usia_dini; http://www. dunia-ibu.org/html/ pendidikan_anak.html; http://www. anakcerdas.com/, diakses 18-4-2010 pukul 17.45):

a. Tahap 0 (Elementer): Usia 0-2 s/d 3 tahun

Pada tahap ini muncul keberanian, harapan, dan cinta (kepercayaan positif) bercampur dengan rasa : takut, cemas, dan benci (kepercayaan negatif). Peran ibu dan atau guru PAUD sangat besar, bahkan cenderung ketergantungan kepada ibu amat menonjol. Guru PAK berperan menumbuh kembangkan kepercayaan positif pada anak.

b. Tahap 1 (Intuitif Proyektif): Usia 3-7 tahun

Pada tahap ini imajinasi berkembang pesat, belum dapat membedakan antara yang ”riil” dengan yang ”imajiner”, perspektif yang ”umum” dan yang ”pribadi”. Tumbuh perasaan ”terlindungi” dan ”terancam”. Mulai tumbuh kepekaan kesadaran pada yang ”Illahi”. Pada tahap ini, sebaiknya PAK melalui sekolah minggu bersinergi dengan ayah-ibunya mulai mengajarkan hal-hal yang ”Illahi”, takut dan hormat akan Tuhan, takut melanggar orang tua, identik dengan melanggar Tuhan, itu berdosa. Menghormati sesama kawan, itu perintah Tuhan yang indah.

c. Tahap 2 (Mitis Harfiah): Usia 7-12 tahun

Pada tahap ini cara berfikir logis mulai mantap, biasanya dengan pola ”sebab akibat”. Kesadaran egosentrisme (individualistik) berkembang. Mulai dapat membedakan mana yang pendapat sendiri dan pendapat orang lain, menguntungkan atau merugikan. Mampu memperkaya sekaligus menguji hidup spiritualnya. Orang tua dan atau guru menjadi sumber otoritas dalam ”ujian” hidup spiritualitasnya. Mulai bisa diajarkan ”mengalami Tuhan”, kesaksian-kesaksian bahwa Tuhan hidup perlu diteladankan terus menerus. PAK hanya akan jadi teori yang tidak berarti tanpa keteladanan, guru jangan berarti ”wagu tur saru” tetapi ”digugu lan ditiru”! Di usia ini apa yang diserap akan mengesan seumur hidup.

d. Tahap 3 (Sintetis Konvensional): Usia 12-20 tahun

Pada tahap ini muncul cara berfikir formal, mampu menyetujui dan menolak pendapat orang lain. Adanya krisis identitas: siapakah ”aku” di antara ”aku-aku” lainnya. Yang diperhatikan adalah gaya hidup, seluk beluk kepribadian, ideologi sebagai cara untuk membentuk identitas diri. Kompromis: bahwa yang ”baik/wajar” adalah seperti yang diingini orang banyak. Menyelenggarakan relasi kesetiakawanan emosional. Demonstrasi jalanan banyak memberdayakan anak-anak seusia ini. Mulai mencari Tuhan yang personal, akrab dengan kehidupan pribadinya. Di usia ini anak sudah kritis, sudah analitis, sudah sintetis terhadap berbagai masukan padanya. Sudah bisa dilibatkan dalam diskusi memandang suatu fenomena, walau masih amat konvensional. Mulai bisa melibatkan Tuhan di balik semua fenomena yang ada.

e. Tahap 4 (Individuatif Reflektif): Usia 20- 35 tahun

Kritis, mempertanyakan, men”dekonstruksi” di hampir semua hal yang dianggap ”lama” dalam rangka menciptakan “system” bagi hidupnya. Semua ingin dikontrol, dikendalikan olehnya. Memupuk sikap tidak bergantung pada orang lain dalam rangka menciptakan diri yang otentik. Mulai mempertanyakan symbol agama, rumusan dogmatis, dan pendapat umum. PAK seharusnya sudah pada refleksi, praktek hidup. Teori PAK tanpa praktek hidup, kotbah tanpa ilustrasi kehidupan, bak sayur tanpa bumbu, cemplang, bak malam tiada bintang, suram dan gelap, tiada keindahan. Pada usia ini, banyak yang melarikan diri, pindah ke gereja yang memiliki aspirasi bisa mewadahi aspirasinya, dapat menjawab pergumulannya.

f. Tahap 5 (Eksistensial Konjungtif): Usia 35 – 45 tahun

Pada tahap ini pandangan hidup mulai lentur dan terbuka, seiring timbulnya kesadaran adanya paradoks, polaritas, ketergantungan dan ambiguitas dalam rangka mencari hidup yang lebih utuh. Simbol religiusitas, cerita, mitos, metaphor dihayati kembali secara baru, sebagai sarana untuk menghayati kebenaran eksistensial. Muncul kesadaran bahwa “ia” adalah bagian dari “ia-ia” yang lain dan rela menerima yang aneh, asing, sesat. Mulai tumbuh dan makin dewasa dalam filosofis, mengapa bias begini, begitu, bagaimana asal muasalnya. PAK kembali ingin dihayati secara mendalam. Pendidikan teologia mulai menarik perhatiannya, bahwa akhir hidup ini harus makin dekat dengan Sang Empunya Hidup. Makin rindu untuk melayani Tuhan, bersekutu dengan Tuhan dan umatNYA.

g. Tahap 6 (Ekstensial Universal)): Usia 45 – … tahun

Pada tahap ini telah berhasil melepaskan diri dari egonya, menjadi pribadi yang otentik. Hidupnya berakar pada yang Ultimate, Yang Tunggal, mengatasi polaritas dan ambiguitas. Cinta inklusif dan berkembang universalitasnya.

Pemberdayaan potensi seseorang pada saat (usia) yang tepat sama halnya dengan mengatur kondusisitas lingkungannya. Inilah kesempatan emas hasil itu maksimal. Kesempatan dan tempat yang tepat, tidak lepas dari potensi guru (brainware) dan tempat (sekolah / lembaga pendidikan) dan kurikulum belajarnya (harware dan software).

3. GURU PAK DAN LEMBAGA PENDIDIKAN KRISTEN

Mendidik berarti membimbing sekaligus mendampingi. Asah, asih, dan asuh itulah slogan dalam pembimbingan dan pendampingan. Dalam asah, asih, dan asuh asas saling percaya menjadi pilar utama. Coba kita simak nasihat dan keteladanan Paulus berikut ini: ”Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2Tim.2:2). Dalam melakukan pembimbingan, peran ”keteladanan” amat besar. Betapapun kecilnya sebuah keteladanan, masih jauh lebih berharga daripada ribuan slogan (nasihat).

Nasihat Kitab Suci seperti yang dikutip Amsal Solaiman: ”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Amsal 22:6), berbicara tentang jalan yang patut dilalui oleh anak / anak didik, yakni jalan yang telah dilalui oleh para orang tua, para generasi pendahulunya. Firman Tuhan tersebut menegaskan bahwa jika guru dan orang tua tidak mendidik yang benar, tidak meneladankan yang benar (patut) berarti menyesatkan anak / anak didik. Dan kalau hal itu terjadi, maka kata Firman Tuhan: Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Mat. 18:6)

Pendidikan melalui keteladanan merupakan faktor yang amat mengesan (membekas) di hati anak. Lembaga pendidikan yang paling efektif dan efisien sebagai wadah pendidikan nilai-nilai spiritualitas ialah keluarga. Orang tualah, seharusnya, menjadi figur sentral keteladanan dalam pendidikan. Guru seharusnya mempersonifikasikan figur orang tua yang berada di sekolah (lembaga pendidikan). Lingkungan kondusif bagi anak untuk belajar, seharusnya di”kondisi”kan seperti aktif dan kreatifnya di rumah. ”Rumah”ku seharusnya menjadi ”Surga”ku. Guru yang baik tentu saja guru yang meneladankan Sang Guru Agung, Tuhan Yesus Kristus, yang amat mengenali setiap dombaNYA – kelebihan dan kekurangan anak. Menerima anak ”apa adanya” bukan ”ada apanya”.

PAK (Pendidikan Agama Kristen) harus berfokus pada pembangunan karakter Kristus, harus terselenggara secara sinambung dengan berbagai keunikan pada masing-masing tahap. Keterbatasan orang tua dan atau guru PAK melakukan pembimbingan dan pendampingan, menjadikan keluarga memerlukan ”sekolah” atau ”Lembaga Pendidikan” yang memadai / ideal sebagai jembatan menuju sukses mencapai potensi anak maksimal dengan mengatur berbagai keterbatasan dan keunggulan secara optimal.

4. SINERGI SEKOLAH DAN MASYARAKAT

Pen-didik-an dan peng-ajar-an yang diejawantahkan dalam keteladanan guru dan orang tua amat berperan penting dalam pembangunan karakter anak dikelak kemudian hari.

Sekolah atau Lembaga Pendidikan harus menjadi tempat yang strategis untuk anak (murid), guru, dan orang tua beserta Komite Sekolah bersinergi. Yayasan sebagai pengelola sekolah harus memiliki visi memberdayakan sinergi ketiganya (murid, guru, dan orang tua beserta Komite Sekolah) hingga fungsional maksimal.

5. PROFESIONAL YANG FUNGSIONAL

Untuk mencapai tujuan nasional yaitu mencerdaskan bangsa seperti yang diamanatkan UUD 1945, maka kunci pertama dan utama adalah pendidikan/ pembinaan/ pengajaran, bermoral dan beriman.

Melalui jalur pendidikan berkesinambungan, goalnya ialah pada ”anak yang profesional”. Dalam hal ini perlu juga diimbangi dengan ”fungsional” yang memadai. Dengan demikian tidak akan terjadi seperti pada kebanyakan orang yaitu banyak orang pandai (profesional) tetapi tidak pandai menularkan kepandaiannya (tidak fungsional), sia-sia.

Harus menjadi tantangan orang tua sebagai wakil Tuhan di dunia untuk memiliki pengalaman ”berfungsi”. Sebab keberhasilan anak merupakan cerminan keberhasilan insan pendidik (orang tua dan guru) dalam mengembangkan talentanya sebagai karunia Tuhan.

Hidup yang hanya sekali ini harus berarti. Apa nasihat Paulus, agar hidup ini berarti? Jawabannya hanya satu saja yaitu ”Olah Pikir”, teladan dalam berpikir! Apa yang dipikirkan setiap saat? Fil.4:8 berkata: ”Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”. Coba pula kita perhatikan komitmen Paulus seperti yang dituliskan di awal tulisan ini: ”Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu” (Fil.4:9).

6. SIMPULAN

Sejak di dalam kandungan, anak-anak telah dianugerahi talenta oleh Tuhan. Pertumbuh kembangan talentanya tak lepas dari peran pendidikan yang diberikan kepada mereka. Lingkungan belajar yang kondusif merupakan pilihan yang harus diupayakan, harus ada harga yang dibayar dalam rangka untuk mencapainya. Kerjasama sinergis guru-orang tua merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar dan bahkan ditunda! Tidak mustahil di kelak kemudian hari akan kita saksikan para pemimpin yang berkarakter.

Era globalisasi mengharuskan kita memasuki era persaingan yang semakin ketat; siap atau tidak, suka atau tidak, kita pasti memasuki dan harus menjalaninya. ”Striving To Be Global”. Kita tidak mungkin lagi menunggu tetapi ”harus aktif dan kreatif”, harus jemput bola. Manfaatkan dan ciptakan setiap peluang yang ada dengan membekali anak sedini mungkin.

Lingkungan belajar yang kondusif menawarkan salah satu metode, tentu bukanlah terkini, tetapi telah teruji dan terbukti bahwa siswa pada saatnya akan menjadi pribadi yang mandiri, dan yang produktif. Tidak ada istilah siswa yang bodoh, tetapi tetap terpandai pada talentanya, selalu tampil sebagai pemenang pada kompetensinya. Lebih dari itu, pada saatnya ”sekarang siswa” (Student today), esok pemimpin Handal (Leader Tomorrow)

Dalam proses belajar mengajar ”Lingkungan Belajar Yang Kondusif”, bagi para guru, harus ada perubahan paradigma, dari ”teaching” (mengajar) ke ”learning” (belajar). Pengetahuan dibangun oleh siswa, sedangkan pengajar lebih berfungsi sebagai fasilitator, dinamisator, katalisator daripada sekedar penyampai informasi

Selamat merayakan hari Pendidikan Nasional dan selamat merayakan hari pencurahan Roh Kudus (hari Pentakosta). Kiranya Roh Kuduslah satu-satunya pembimbing dan pendamping kita ke arah jalan Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Priyanto, S., 2010, “Peran Pemuda Sebagai Tunas Gereja”, Disampaikan dalam Program Kerja Bimas Kristen Kanwil Depag Prov Jateng tahun 2010 bagi para pemuda gereja se-Jawa Tengah, di Hotel Le Beringin Salatiga, 17-20 Februari 2010

2. Priyanto, S., 2010, “Teori Belajar Aktif”, Disampaikan dalam Penyelenggaraan Orientasi KTSP Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) Sekolah Menengah Pertama Se-Jawa Tengah yang dilaksanakan tanggal 22-25 April 2010 di Hotel Le Beringin Jl. Jenderal Sudirman 160 Salatiga. Program tersebut diselenggarakan oleh Bimas Kristen Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah

3. http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan_hidup, diakses pada 12 Mei 2010 pukul 18.00

4. http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini; diakses 18-4-2010 pukul 17.45

5. http://www.dunia-ibu.org/html/pendidikan_anak.html; diakses 18-4-2010 pukul 17.45

6. http://www.anakcerdas.com/, diakses 18-4-2010 pukul 17.45

7. Alfons Taryadi dalam http://www.cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/04/00552130/ko, diakses tanggal 2 Mei 2010 pukul 18.00

_________________________________________________________________________________________________________________

1) Disampaikan dalam Penyelenggaraan Orientasi KTSP Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) Sekolah Menengah Atas Se-Jawa Tengah yang dilaksanakan tanggal 4-7 Mei 2010 di Hotel Le Beringin Jl. Jenderal Sudirman 160 Salatiga. Yang diselenggarakan oleh Bimas Kristen Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah.

2) Penulis adalah :

Dosen Fakultas Teknik Universitas Diponegoro,

Leave a Reply